::What is it about being loved?::
Kalau ada yang tanya, “pilih mana, mencintai atau dicintai?”, hampir pasti sebagian besar dari kita akan jawab “mencintai dan dicintai”:) (iya laaah…). Berbahagialah orang yang udah ngedapetin keduanya, karena ternyata cukup sulit nemuin orang yang tepat yang bisa bikin kita ngerasain kedua hal itu. Seringkali kita mesti ‘berpuas diri’ karena at that time kita cuma bisa ngerasain salah satu; either itu mencintai atau dicintai. Titik.
Siapa yang ga pengen dicintai? Tiap orang pasti punya keinginan untuk dicintai. Tiap orang pasti pernah jatuh cinta. Dan siapapun yang sedang jatuh cinta pasti merasa jadi orang yang paling bahagia di seluruh dunia. Life becomes so beautiful:) Ada seseorang yang perhatian, ada tempat untuk berbagi, ada ‘temen’ yang setia nemenin dalam suka dan duka, orang yang tulus memberi seluruh waktu dan hatinya untuk kita. Hmmmm…:)
But what if we don’t feel the same? At least not the way it should meant to.
Because sometimes life is just so unfair…
Sebenernya mana yang lebih berat? Ada yang bilang dicintai itu lebih berat, karena kita ga bisa mengendalikan perasaan orang lain. Lain halnya dengan kalau kita mencintai orang lain, dimana - at least - kita bisa deal sama perasaan sendiri.
Gue sendiri setuju dengan itu.
Salah satu temen gue – cowo, single – pernah cerita ke gue tentang kebingungannya bersikap terhadap cewe-cewe yang menaruh hati ke dia (itu resiko jadi orang cakep, mas:) ). Bahkan ada yang bener-bener totally all hearts. Sampe-sampe dia pernah nanya ke gue, “apa gue terlalu baik sama cewe ya, pit?”
Temen gue yang lain – cewe, in a relationship – juga pernah nyatain kegundahannya karena ngeliat kalo cowonya kayaknya ‘terlalu’ cinta ma dia. Belajar dari pengalaman, dia berprinsip untuk ga memberikan 100% hatinya untuk seseorang (which is I’m agree with her). Jadi waktu dia ngeliat cowonya kayaknya cinta mati kayak gitu ke dia, yang ada dia malah jadi gamang.
Weird, isn’t it? Well, life is also weird, and sometimes we just have to believe it.
Mungkin yang terkadang bikin jadi beban itu karena ‘porsi’ cinta yang terlalu berlebih ya. Tiap orang pasti punya cara masing-masing untuk nunjukkin rasa cinta ke pasangannya. Tapi ketika rasa yang dimiliki udah terlalu tinggi, terkadang orang bisa jadi lebih mengedepankan ego untuk memiliki dan mengendalikan. Let’s say… bisa aja seorang cowo bersikap over protective, cemburuan, ga ngebebasin si cewe untuk ngelakuin apa yang dia mau, karena terlalu takut kehilangan.
Sometimes it sounds so ridiculous. Tapi memang perbedaan antara protective dan over protective itu hanya setipis kertas.
Sayangnya, adakalanya ketika kita dalam posisi sebagai ‘objek’ yang ‘dapet kehormatan’ untuk dicintai seseorang, kita malah jadi take for granted sama apa yang dia tunjukkin. And then things screwed up. Dan kalau salah satu pihak udah mulai ngerasa terbeban, siapa yang bisa disalahkan?
Pertanyaannya sekarang, cukupkah mencintai seseorang lebih sebagai balasan karena kita dicintai?
TIDAK.
Kalau ada yang tanya, “pilih mana, mencintai atau dicintai?”, hampir pasti sebagian besar dari kita akan jawab “mencintai dan dicintai”:) (iya laaah…). Berbahagialah orang yang udah ngedapetin keduanya, karena ternyata cukup sulit nemuin orang yang tepat yang bisa bikin kita ngerasain kedua hal itu. Seringkali kita mesti ‘berpuas diri’ karena at that time kita cuma bisa ngerasain salah satu; either itu mencintai atau dicintai. Titik.
Siapa yang ga pengen dicintai? Tiap orang pasti punya keinginan untuk dicintai. Tiap orang pasti pernah jatuh cinta. Dan siapapun yang sedang jatuh cinta pasti merasa jadi orang yang paling bahagia di seluruh dunia. Life becomes so beautiful:) Ada seseorang yang perhatian, ada tempat untuk berbagi, ada ‘temen’ yang setia nemenin dalam suka dan duka, orang yang tulus memberi seluruh waktu dan hatinya untuk kita. Hmmmm…:)
But what if we don’t feel the same? At least not the way it should meant to.
Because sometimes life is just so unfair…
Sebenernya mana yang lebih berat? Ada yang bilang dicintai itu lebih berat, karena kita ga bisa mengendalikan perasaan orang lain. Lain halnya dengan kalau kita mencintai orang lain, dimana - at least - kita bisa deal sama perasaan sendiri.
Gue sendiri setuju dengan itu.
Salah satu temen gue – cowo, single – pernah cerita ke gue tentang kebingungannya bersikap terhadap cewe-cewe yang menaruh hati ke dia (itu resiko jadi orang cakep, mas:) ). Bahkan ada yang bener-bener totally all hearts. Sampe-sampe dia pernah nanya ke gue, “apa gue terlalu baik sama cewe ya, pit?”
Temen gue yang lain – cewe, in a relationship – juga pernah nyatain kegundahannya karena ngeliat kalo cowonya kayaknya ‘terlalu’ cinta ma dia. Belajar dari pengalaman, dia berprinsip untuk ga memberikan 100% hatinya untuk seseorang (which is I’m agree with her). Jadi waktu dia ngeliat cowonya kayaknya cinta mati kayak gitu ke dia, yang ada dia malah jadi gamang.
Weird, isn’t it? Well, life is also weird, and sometimes we just have to believe it.
Mungkin yang terkadang bikin jadi beban itu karena ‘porsi’ cinta yang terlalu berlebih ya. Tiap orang pasti punya cara masing-masing untuk nunjukkin rasa cinta ke pasangannya. Tapi ketika rasa yang dimiliki udah terlalu tinggi, terkadang orang bisa jadi lebih mengedepankan ego untuk memiliki dan mengendalikan. Let’s say… bisa aja seorang cowo bersikap over protective, cemburuan, ga ngebebasin si cewe untuk ngelakuin apa yang dia mau, karena terlalu takut kehilangan.
Sometimes it sounds so ridiculous. Tapi memang perbedaan antara protective dan over protective itu hanya setipis kertas.
Sayangnya, adakalanya ketika kita dalam posisi sebagai ‘objek’ yang ‘dapet kehormatan’ untuk dicintai seseorang, kita malah jadi take for granted sama apa yang dia tunjukkin. And then things screwed up. Dan kalau salah satu pihak udah mulai ngerasa terbeban, siapa yang bisa disalahkan?
Pertanyaannya sekarang, cukupkah mencintai seseorang lebih sebagai balasan karena kita dicintai?
TIDAK.
